(Part 2)

Banjir Reseller Melangit

Nela tak membutuhkan waktu lama untuk mengenalkan produk Melangitke pangsa pasarnya di twitter. Setelah banyak orang kenal Melangit, kerudung buatannya bisa cepat habis dan hasilnya langsung ia putar lagi untuk membeli bahan baku dan memproduksi kerudung. Selama tiga bulan pertama, usaha Nela berkembang dengan sangat cepat. Desember 2012 lalu, Melangit sudah memiliki tiga orang reseller. Sebuah prestasi yang terbilang hebat untuk usaha yang baru saja dirintis.

Reseller Melangit pun terus bertambah dengan cepat seiring berjalannya waktu. Kini (Mei 2013, saat wawancara berlangsung), walau belum genap setahun Melangit lahir, Nela sudah memiliki  26 reseller produknya yang tersebar di sejumlah kota. Mulai dari seputar Jabodetabek seperti Jakarta Selatan, Depok, Bekasi, Bogor, kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Bandung dan Surabaya, hingga luar Pulau Jawa seperti Banjarmasin, Balikpapan, Kutai Kertanegara, Denpasar, Palembang bahkan Jayapura.

Ia merasakan sebagian orang sudah mulai sadar untuk berjilbab syar’i. Orang pun sudah mulai bosan mengikuti mode dan memilih kembali untuk berkerudung secara sederhana sesuai syariat. Menurutnya, jika saat ini masih banyak Muslimah berkerudung yang cenderung hanya mengikuti tren, itu karena memang mereka belum mengetahui cara berjilbab yang syar’i. Hal itu pula yang mendorongnya kian giat mengembangkan bisnisnya sebagai bagian dari langkahnya berdakwah pada para muslimah mengenai jilbab syar’i.

Untuk itu pula ia membuat tagline Melangit : Suppport You to Syar’i. Nela ingin agar semakin banyak orang yang menyadari bahwa dengan tampil syar’i bisa terlihat anggun dan elegan, serta tidak ribet. Dan semua itu bisa tercermin dari produk Melangit yang cenderung simple dan tidak rumit.

Untuk kerudung, produk Melangit memang hanya polos dan tak ada aksen. Nela berusaha menarik minat orang dengan menyediakan warna yang sangat beragam sehingga mereka bisa memiliki banyak pilihan. Nela tak hanya memproduksi kerudung segiempat, tapi ada pula kerudung bergo atau kerudung langsung pakai, karena banyak pelanggannya yang menanyakan produk ini.

Akhirnya, kini ia memiliki dua varian kerudung. Kerudung segiempat dengan tiga ukuran berbeda, yaitu ukuran S memiliki panjang dan lebar (+/-) 115 cm, ukuran M, panjang dan lebarnya (+/-) 130 cm, serta ukuran XL yang panjang dan lebarnya (+/-) 150 cm. Sementara untuk bergo ada dua ukuran, yaitu bergo eL yang panjang bagian depan bila dihitung dari dagu 55cm serta bergo eLL yang bila dihitung dari dagu panjangnya 80cm.

Harganya pun bermacam-macam, dari mulai yang paling murah kerudung segiempat ukuran S, yaitu Rp 40.000 hingga bergo eLL Rp 80.000, Nela tak ingin mematok harga yang terlalu mahal untuk barang-barangnya, tapi juga tak ingin terlalu murah. “Bismillah, syar’i tapi terjangkau,” ujarnya.

Berbagi Tugas Berbagi Mimpi Syar’i

Mulanya ia melakukan semua itu sendiri. Belum ada orang lain yang membantunya. Kemudian ia mengajak seorang temannya, Diah Pratiwi, yang sebenarnya belum lama ia kenal, tapi sudah merasa sangat cocok untuk bergabung mengelola Melangit. Nela dan Diah pin berbagi tugas, Nela lebih banyak mengurusi produksi dan reseller, sedangkan Diah lebih banyak berperan sebagai customer service yang melayani pembelian eceran.

Ketika produksi kerudung sudah mencapai seratus helas, ia pun mulai kewalahan dan merasa perlu mempekerjakan karyawan. Kini, Nela pun sudah memiliki sejumlah karyawan yang merupakan orang-orang disekitar tempat tinggalnya. Para pekerja itu memiliki tugas yang berbeda-beda, ada yang khusus bagian menjahit, melipat, memberi label, memasukkan ke dalam plastic dan sebagainya.

Dalam sepekan, Melangit dua kali berproduksi. Sekali berproduksi, mencapai 260 helai kerudung. Biasanya barang yang diproduksi bergantian, bila pecan ini memproduksi ukuran M maka pecan depan ukuran XL dan begitu seterusnya. Ia juga sempat memberdayakan anak-anak yatim piatu di Bogor untuk membuat bros hasil karya mereka sendiri. Kemudian Nela juga membuat rok dan gamis untuk Melangit. Akan tetapi, produksi keduanya masih terbatas, tak sebanyak kerudung, Gamis dan rok itu ia banderol harga Rp 150.000.

Selain memerhatikan masalah kualitas barang yang harus terjaga dengan baik, Nela juga mementingkan kemasan melangit yang harus menarik. Menurutnya, bila kualitas barang sudah bagus, tapi dari tampak luar kurang menarik, orang jadi berpikir ulang untuk membelinya.

Kini dalam sebulan ia bisa mendulang omzet 40 juta rupiah. Padahal dulu, ketika baru memulai usaha ini omzetnya masih terbilang minim. Walau sudah bisa berjalan dengan baik seperti sekarang, bukan berarti Nela tak memiliki rintangan dalam menjalankan bisnis.

Persoalan manajemen masih menjadi poin penting yang terus berusaha ia perbaiki. Karena saat ini, ia hanya berdua dengan Diah menangani manajemen Melangit. Sementara pelanggan dan reseller terus bertambah sehingga mereka cukup kesulitan menghadapinya.

Hal lain yang juga menjadi tantangan adalah menghadapi pelanggan yang rewel. Diah tetap berusaha menghadapinya dengan semanis mungkin. Pelayanan menjadi prioritas bagi Melangit. banyak orang yang lebih senang membayar dengan harga yang lebih mahal sedikit dengan pelayanan prima. daripada harga murah, tapi pelayanan kurang baik. Pelanggan adalah asset yang paling penting, mereka bukan hanya konsumen, tapi juga marketer ‘gratisan’ yang bisa dengan ampuh mempromosikan produk bila mereka menyukainya.

Kini, mereka masih menyimpan mimpi besar untuk kian memasyarakatkan jilbab syar’i lewat Melangit, serta bisa menjalin kerja sama yang lebih banyak lagi dengan anak-anak yatim. Dan tentunya mereka tetap memendam impian suatu saat nanti Melangit bisa memiliki toko offline sendiri. InsyaAllah.

~semoga dimudahkan. :D

***

Tulisan diatas dimuat dalam majalah Aulia edisi Juli 2013, wawancara dilakukan pada 30 Mei 2013. Semua kondisi dalam tulisan ini berdasarkan kondisi melangit pada akhir Mei 2013 lalu. Terimakasih Aulia.. :)